• Call us now

    0751-33624
  • Address

    Jl. Terandam III No 27 B Padang
  • Schedule

    Senin - Jum`at 08:00-14:00

SEJARAH TUMBUH DAN BERKEMBANGNYA PMI KOTA PADANG UNTUK PERTAMA KALI

Setelah menunggu sekian lama dari penantian panjang sejarah Perhimpunan Palang Merah Indonesia (PMI) bersifat kebangsaan sejak dilahirkan pada tanggal 17 September 1945 sampai akhir tahun 1959, maka pada tahun 1960 Kepengurusan PMI cabang kota Padang terbentuk untuk pertama kalinya, meskipun sebelum dan sesudah terbentuknya PMI Pusat pernah disebut-sebut bahwa, di Sumatera Barat sudah terbentuk kepengurusan PMI bersifat lokal dan ikut dalam berbagai rapat dan kongres yang dilaksanakan di kota Padang Panjang dan Kota Bukittinggi, pada masa-masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI tahun 1945.

Pembentukan kepengurusan PMI cabang kota Padang merupakan tindak lanjut kebijakan pengurus PMI Pusat untuk lebih memperkokoh organisasi guna mewujudkan visi dan misinya dengan membentuk dan mengembangkan Perhimpunan PMI di setiap kabupaten dan kota di seluruh tanah air, termasuk di kota Padang. Kewenangan untuk membentuk dan mengembangkan PMI di setiap kabupaten dan kota sejalan dengan diakuinya PMI oleh ICRC sebagai satu-satunya Perhimpunan Palang Merah di Indonesia pada tanggal 15 Juni 1950, serta diperkuat dengan terbitnya Lembaran RI Nomor 1 Tahun 1962, menjadi dasar hukum yang memberikan peluang dan kebebasan bagi PMI untuk membentuk jajaran cabang organisasi keseluruh daerah tingkat dua termasuk pembentukan dan pengembangan PMI ranting pada wilayah kecamatan.

Kepengurusan pertama PMI cabang kota Padang tahun 1960-1972 terdiri dari ; Kolonel Pol. dr. Soetrisno (Penasehat), dr. Azhari Riva’i. THT (Ketua I), Zaura.N.Achir.Oesman (Ketua II), Azhari (Sekretaris I), Soetan Chaidir (Sekretaris II), dan Wizar Yazid (Bendahara), ditambah beberapa orang anggota.

Tahun 1967 terjadi pergantian pimpinan Ketua I yang dipegang oleh dr. Azhari Riva’i.THT digantikan oleh R.M. Moelyo. Selanjudnya dalam waktu tidak terlalu lama R.M. Moelyo terpilih sebagai Pengurus PMI Provinsi Sumatera Barat, maka Ketua I dipercayakan kepada Azhari yang sebelumnya sebagai sekretaris I.

Azhari sempat menjabat selaku Walikota Padang pada tahun 1966-1967, namun sebagai Ketua I PMI cabang kota Padang masih diteruskan sampai tahun 1972. Jabatan sekretaris I selanjudnya dipegang oleh Soetan Chaidir. Dengan demikian antara tahun 1960 sampai 1972, kepengurusan PMI cabang kota Padang memiliki tiga orang Ketua I, yakni dr. Azhari Riva’i. THT, R.M. Moelyo, dan Azhari.

Untuk menunjang pelaksanaan operasional rutinitas kegiatan administrasi PMI sehari-hari, maka Pengurus diperkenankan memanfaatkan bahagian bangunan komplek apotik Kinol Jalan Imam Bonjol No.112 Padang sebagai kantor PMI dengan status pinjam pakai selama satu tahun menje

lang pengurus mendapatkan bangunan kantor sendiri. Sementara itu untuk membantu pelaksanaan kegiatan administrasi, maka pengurus merekrut Johasnah, syahril, serta beberapa orang calon relawan yang sebelumnya dipersiapkan untuk operasi TRIKORA yakni, Usman, Tawanto dan Amir Hamzah.

Meskipun untuk sementara pengurus dapat memanfaatkan bahagian komplek apotik Kinol untuk kegiatan sekretariat, namun baru pada tahun 1964 pengurus mengajukan surat permohonan yang ditandatangani oleh Zaura.N.Achir.Oesman sebagai Ketua II, untuk mendapatkan sebidang tanah kepada Kepala Inspeksi Agraria Dati I Sumatera Barat, dan tembusan disampaikan kepada Gubernur Sumatera Barat. Permohonan ini disambut baik oleh Kepala Inspeksi Agraria Dati I dan Gubernur Sumatera Barat dengan memberikan sebidang tanah seluas 45 x 45 m Verp.No. 4511, tepatnya di belakang kantor Gubernur Padang Pasir kepada PMI cabang kota Padang.

Bertepatan dengan rangkain kegiatan peringatan hari Palang Merah Sedunia pada tanggal 8 Mei 1965 dilakukan peletakan batu pertama rencana pembangunan kantor PMI oleh Walikota Padang, yang dijabat oleh Zainul Abidin Soetan Pangeran. Kendatipun demikian pembangunan kantor PMI cabang kota Padang tidak dapat diteruskan karena ada gugatan bahwa, tanah/lahan yang diberikan kepada PMI cabang kota Padang dinyatakan sepihak milik Corps Cacat Veteran RI Provinsi Sumatera Barat.

Pada awal terbentuknya pengurus PMI cabang kota Padang tahun 1960 lebih banyak terlibat dengan

berbagai kegiatan yang berkaitan dengan persiapan sukarelawan yang akan dikirim pada operasi TRIKORA di Irian Barat, dan pada tahun 1965 barulah pengurus lebih fokus melaksanakan program kegiatan kepalangmerahan, diantaranya kegiatan Pelayanan Kesehatan (YANKES) serta pembentukan dan pengembangan kelompok Palang Merah Remaja (PMR) di beberapa Sekolah Rakyat (sekarang SD) dan SLTP dalam kota Padang.

Unsur kepengurusan PMI cabang kota Padang 1960-1972 terdiri dari berbagai latar belakang profesi, dan lebih didominasi kalangan kesehatan yang masih aktif ketika itu, maka wajar program kegiatan PMI cabang kota Padang masa bakti 1960-1972 yang cukup menonjol adalah di bidang layanan kesehatan (Yankes).

Guna membantu pengurus dalam pelaksanaan program kegiatan kesehatan, maka untuk pertama kalinya pada tahun 1967 PMI cabang kota Padang membentuk Tim Khusus dimana anggotanya terdiri dari utusan-utusan dari hasil seleksi kepala-kepala Kampung dalam kota Padang, disamping terbentuknya PMR di Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) Padang, dan selanjudnya juga bergabung dengan Tim Khusus.

Dominannya kegiatan kesehatan yang dilaksanakan oleh PMI, dikarenakan pemerintah belum mampu sepenuhnya menyediakan sarana, prasarana dan fasilitas kesehatan yang terjangkau dan mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat kota Padang, seperti akses untuk mendapatkan layanan kesehatan di PUSKESMAs dan POSYANDU yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan dan kelurahan seperti yang kita temukan sekarang, apalagi pelayanan kesehatan itu dilakukan secara cuma-cuma dalam kondisi ekonomi masyarakat kota Padang masih sangat terbatas, disamping berjangkitnya berbagai wabah penyakit menular yang menyerang masyarakat kota Padang. Inisiatif mendirikan dan membuka Balai Pengobatan (BP) dan BKIA oleh PMI, diantaranya :

  1. BP dan BKIA PMI Simpang Enam Kecamatan Padang Barat

  2. BP dan BKIA PMI Gunung Pangilun Kecamatan Nanggalo

  3. BP dan BKIA PMI Ulak Karang Kecamatan Padang Utara, dan

  4. BP dan BKIA PMI Bukit Gado-Gado dan Air Manis Kecamatan Padang Selatan.

Setelah PUSKESMAS berdiri di setiap kecamatan pada pertengahan 1968 sampai akhir 1970, Balai Pengobatan dan BKIA PMI cabang kota Padang di kelurahan Simpang Enam kecamatan Padang Barat berobah fungsi menjadi rumah bersalin dengan nama rumah bersalin RABIANI, (RABAINI adalah nama pemilik rumah dimana rumah bersalin PMI didirikan) di jalan HOS Cokroaminoto kecamatan Padang Barat, sementara itu Balai Pengobatan di lokasi lainnya ditutup dengan sendirinya.

Lebih jauh kegiatan layanan kesehatan yang dilakukan oleh PMI yang cukup fondamental adalah membantu upaya pencegahan dan pemberantas wabah penyakit campak. Kehadiran PMI beserta Tim Khususnya sangat dibutuhkan, karena terbatasnya tenaga dokter dan para medis lainnya, sementara itu wabah penyakit campak sudah sangat mengkuatirkan.

Dimulai dengan kegiatan pemutaran filem pada malam hari, dan pada siang harinya dilaksanakan kegiatan cacar kepada masyarakat, berjalan cukup lancar dan berhasil, karena keberhasilan PMI sekaligus keberhasilan Soetan Chaidir (Sekretaris I) dalam pelaksanaan tugasnya sebagai mantri cacar.

Begitu tingginya aspirasi dan simpati masyarakat terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan layanan kesehatan oleh PMI, peluang ini dimanfaatkan oleh pengurus untuk melaksanakan bulan dana PMI setiap tahunnya.

Berdirinya Dinas Transfusi Darah ( 1973 )

Program kegiatan yang menonjol dan patut kita apresiasi masa kepengurusan PMI cabang kota Padang yang diketuai dr. Syahril Djohan, adalah berdirinya Dinas Transfusi Darah (DTD) yang sekarang kita kenal dengan nama Unit Donor Darah atau UDD-PMI cabang kota Padang. Pendirian DTD ini disyahkan dengan keputusan Pengurus Besar PMI Nomor 194/SKP/PB/1973 dan diresmikan pada tanggal 28 Agustus 1973 oleh Harun Zein (Gubernur Provinsi Sumatera Barat), kemudian dilanjudkan dengan pembukaan selubung papan nama DTD PMI cabang kota Padang. Harun Zein tercatat sebagai Pendonor Darah Sukarela (DDS) pertama dan juga sebagai Ketua Pengurus PMI Daerah Sumatera Barat.

Dengan menepati sebuah ruangan lantai satu dibawah ruang bangsal anak-anak komplek RSUP M. Jamil Padang, dan didukung dengan sarana, prasarana, fasilitas serta tenaga yang masih terbatas, DTD PMI cabang kota Padang melakukan seluruh aktifitas teknis Upaya Kesehatan Transfusi Darah (UKTD) yang mengarah pada profesionalitas. Sementara itu kantor pengurus PMI cabang kota Padang tetap pada lokasi pertama di komplek apotik Kinol Jalan Imam Bonjol kelurahan Belakang Pondok Padang.

Motivasi Pengurus PMI cabang kota Padang periode 1973-1979 untuk mendirikan Dinas Transfusi Darah, dengan pertimbangan :

  1. Dalam sejarah gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, aktifitas pengolahan darah melekat dengan tugas dan kewajiban Perhimpunan Palang Merah, termasuk warisan kegiatan pengolahan darah sebagai kegiatan utama dari NERKEI (Palang Merah Hindia Belanda) yang selanjudnya diserahkan kepada PMI pada tahun 1950, dan bahkan dalam perkembangannya diperkuat dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980, dan Nomor 7 Tahun 2011 yang menegaskan bahwa pemerintah menugaskan kepada PMI untuk melaksanakan kegiatan pengolahan darah.
  2. Ketua Pengurus PMI cabang Kota Padang waktu itu dijabat oleh dr.Syahril Djosan, yang juga sebagai Kepala DKK kota Padang sangat memahami permasalahan darah di banyak rumah sakit dalam Kota Padang. Kebutuhan darah yang meningkat dengan kualitas yang lebih baik memicu semangat agar pengolahan darah harus dilakukan secara profesional oleh PMI, yang sebelumnya kegiatan transfusi darah diproses dari orang ke orang. Guna memenuhi profesiolaitas pengolahan darah, maka DTD lansung dibawah pimpinan dan koordinasi teknis dr. Syahril Djosan, dan sebagai pelaksana harian dipercayakan kepada Murni Karani (staf DKK Kota Padang), dibantu dua orang pegawai Tawanto dan Helma Hamid.

Dari tahun 1976 sampai tahun 1978 telah diserahkan 103 medali dan piagam penghargaan dari Markas Besar PMI kepada Pendonor Darah Sukarela (DDS) yang telah mendonorkan darahnya 5 kali, 10 kali, dan 15 kali. Khusus untuk DDS 15 kali juga mendapat piagam penghargaan dari Gubernur Sumatera Barat yang diserahkan pada hari Pahlawan Tahun 1976, 1977 dan 1978.

Pengurus PMI cabang kota Padang pada tahun 1978 juga membentuk Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI) kota Padang untuk pertama kali dengan Ketua dr. J.S. Nurdin. Kehadiran PDDI kota Padang diharapkan mampu mengkoordinir pelestarian DDS dengan anggotanya pada waktu itu sudah mencapai 400 orang.

Disamping pelaksanaan program kegiatan kesehatan transfusi darah, pengurus juga aktif melakukan pembinaan dan pengembangan PMR, termasuk mengirim kelompok PMR PMI kota Padang pada kegiatan kepalangmerahan yang dilaksanakan di berbagai daerah. Sementara itu program kegiatan Penangulangan Bencana (PB) yang dilaksanakan, diantaranya pada tahun 1976 pengumpulan dan pengiriman bantuan melalui PMI daerah Sumatera Barat ke Irian Jaya, Bali, dan untuk pengunsi Timor Timur, serta bantuan nasi bungkus bagi korban kebakaran di Alang Lawas serta bencana banjir lainnya yang terjadi dalam kota Padang.

Pada masa kepengurusan 1973-1979, pernah juga membantu pemulihan hubungan keluarga ((TMS), yakni NN. Bodewyn dari negara Belanda untuk mencari keluarganya bernama Ny. M. Kephenget yang lahir di Padang, namun alamatnya tidak diketahui. Atas bantuan PMI kota Padang akhirnya pada tanggal 7 November 1974, Ny. Kephenget dapat ditemukan, dimana pada saat itu sudah menikah dengan seorang warga kota Padang dan bertempat tinggal di jalan Proklamasi No. 41 Padang. Berita ditemukannya Ny. Kephenget diteruskan kepada Pengurus Pusat PMI.

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: Module 'imagick' already loaded

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: